Kemiskinan Seperti Kolesterol

Saat FGD Problematika Kemiskinan di DIY antara Data, Fakta dan Usaha Pemda DIY untuk Mengatasinya. Problematika kemiskinan di DIY.

 

Marknews.id, Yogyakarta – Kemiskinan yang masih diderita  masyarakat diibaratkan seperti kolesterol. Diet sudah, olahraga sudah tapi belum kunjung hilang. 

“Maka perlu mencari laboratorium yang bisa menurunkan kolestrol,” kata Arif Noor Hartanto, Koordinator Penyusunan Pokok-Pokok Pikiran DPRD DIY, Rabu, 24 November 2021.

Arif yang merupakan Tenaga Ahli Fraksi PAN DPRD DIY menyatakan hal itu dalam  Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Penyusunan Pokok-pokok Pikiran DPRD DIY terhadap RKPD DIY Tahun 2023, Rabu, 24 November 2021. FGD bertempat di Ruang Rapat Paripurna Lantai Dua Gedung DPRD DIY Jalan Malioboro. 

Diskusi dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengambil tema Problematika Kemiskinan di DIY antara Data, Fakta dan Usaha Pemda DIY untuk Mengatasinya. Problematika kemiskinan di DIY hingga saat ini masih menjadi keseriusan bagi Pemda DIY. Masalah tersebut hingga sampai sekarang belum bisa teratasi. 

Bahkan program-program yang selama ini dilakukan oleh Pemda DIY dinilai masih belum selesai secara tuntas, sehingga hal tersebut harus ada aksi nyata untuk turun langsung ke lapangan.

Arif menambahkan pihaknya mengakui pendataan keluarga miskin kadang-kadang kurang mengena baginya. Contohnya, Yogyakarta dikenal sebagai gemi nastiti ati -ati, karena sedikitnya pengeluaran biaya hidup akhirnya dihitung oleh BPS masuk kategori miskin. 

Contoh lain, di Gunung Kidul, orang-orang pada umumnya hidupnya sederhana. Mereka makan seadanya mengambil dari halaman. Namun demikian mereka punya pohon jati. Ke depan perlu kesepakatan apakah pohon jati itu perlu dihitung atau tidak oleh BPS.

“Kalau tingkat kemiskinan mengukur  menggunakan batas minimal pengeluaran Rp 482.855 per kapita per bulan seperti yang tercantum dalam Susenas Maret 2021, maka terdapat 12,8 persen penduduk DIY masuk kategori miskin,” kata Iming, panggilan akrab Arif.

Sehingga, dari 3,668 juta penduduk DIY yang masuk ke dalam kategori miskin sebanyak 506,4 ribu jiwa. Di bulan Maret 2021 meningkat 3,3 ribu jiwa dibanding September 2020 sebesar 503,14 ribu jiwa. Di bulan September 2019 mencapai 440,890 jiwa atau 11,44 persen, hal itu menjadi terendah. 

Data itu, sangat jauh dari target angka kemiskinan 8,07 persen pada tahun 2021. Secara persentase tercatat penduduk miskin di provinsi ini ada di Kabupaten Kulonprogo disusul Gunung Kidul dan Bantul.

Peneliti Senior Kementerian Sosial (Kemensos) RI Dr Istiana Hermawati MSi menambahkan bahwa pihaknya mengakui angka kemiskinan di DIY berbeda dengan daerah lain. Hal itu dibuktikan dengan adanya hasil risetnya yang dilaksanakan dengan turun langsung menemui responden. Kemiskinan di DIY memang spesifik serta lebih dominan dipengaruhi oleh faktor sosial dan psikologis.

“Implikasi dari temuan yakni, perumusan kebijakan, arah atau program pengentasan kemiskinan di DIY hendaknya mempertimbangkan dimensi kemiskinan yang multiple terutama dimensi sosial dan psikis. Jangan hanya mengedepankan ekonomi saja,” kata dia. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sugeng Ariyanto melanjutkan bahwa komposisi garis kemiskinan di DIY Maret 2021 yaitu sebesar Rp 482.855 per kapita per bulan atau meningkat 3,74 persen disbanding September 2020 yang besarnya Rp 465.428 per kapita per bulan.

Garis kemiskinan makanan tercatat sebesar Rp 350.067 per kapita per bulan dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp 132.758 per kapita per bulan.

“BPS mengukur kemiskinan menggunakan konsep kebutuhan dasar. Dengan konsep itu,  kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan dan bukan makanan),” kata dia.

Wakil DPRD DIY Huda Tri Yudiana menyayakan dengan adanya diskusi ini, pihaknya berharap ada terobosan baru guna mengatasi problem kemiskinan di DIY. 

“Mudah-mudahan ada terobosan,” kata wakil rakyat dari PKS itu.

 

FULL

 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar