Jambore Petani Muda, Jadi Petani itu Milenial


Dari kiri ke kanan

  1. Direktur Pemasaran PT. Petrokimia Gresik ( Meinu Sadariyo )
  2. Direktur Utama PT. Petrokimia Gresik ( Rahmad Pribadi, CIA, MPA )
  3. Dekan Fakultas Pertanian UGM ( Dr. Jamhari, S.P., M.P )
  4. BPPSDMP Kementan ( Dr. Inneke Kusumawaty, STP, MP )
  5. CEO TaniJoy ( Nanda Putra )
  6. CEO Agradaya ( Andhika Mahardika )

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Kaum muda di kalangan milenial didorong untuk menjadi petani.  Jadi petani saat ini adalah termasuk gaul dan milenial.

Apalagi di era digital dan industri 4.0, lahan pertanian juga semakin sempit, petani harus melek teknologi. Banyak sektor bisnis pertanian yang masih luas untuk digarap kaum milenial ini. Di samping itu, jumlah petani juga semakin menyusut dan usia semakin uzur.

“Regenerasi petani menjadi isu penting yang perlu diperhatikan seluruh pihak,” kata Direktur Utama Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi, di sela Jambore Petani Muda 3 yang digelar di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Rabu, 25 September 2019.


Jumlah petani usia produktif di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Sedangkan minat generasi muda atau kaum milenial untuk terjun ke sektor pertanian masih minim.

Sensus Pertanian 2013 mencatat jumlah rumah tangga petani turun 20 persen dari 79,5 juta menjadi 63,6 juta, atau turun 15,6 juta rumah tangga. Bahkan diperparah lagi dengan kondisi 61 persen petani Indonesia telah berusia di atas 45 tahun.

Rahmad menegaskan keterlibatan generasi milenial dalam mendukung, mengembangkan, serta memajukan sektor pertanian menjadi sangat dibutuhkan. Pertanian juga perlu sentuhan serta terobosan generasi ini.

“Mahasiswa, sebagai generasi milenial  punya kontribusi yang penting karena petani kita tua dan gaptek (gagap teknologi). Kami melihat disini universitas bisa menjadi katalisator,” kata dia.

Dalam menumbuhkan regenarasi petani dan agrosociopreneur di Indonesia, PT Petrokimia Gresik produsen pupuk dan bahan kimia untuk solusi agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), menggelar rangkaian program “Jambore Petani Muda” di dua belas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

Rahmad menerangkan Jambore Petani Muda merupakan upaya konkrit Petrokimia Gresik untuk menumbuhkan ketertarikan generasi milenial terhadap pertanian. Selain mendukung upaya pemerintah meregenerasi petani, program ini juga ingin melahirkan pengusaha muda pertanian yang mampu memberikan dampak sosial atau agrosociopreneur di Indonesia.

Dalam kegiatan ini, berbagai  ide kreatif generasi milenial di bidang pertanian yang berorientasi profit di tampung. Nantinya dua belas tim terbaik dari setiap PTN akan mendapat kesempatan memaparkan idenya secara langsung di hadapan dewan juri.

Tiga ide bisnis terbaik akan memperoleh dana untuk pengembangan bisnis dan mendapat mentoring khusus langsung dari pimpinan perusahaan di bidang pertanian dan agroindustri

Di zaman digital ini, kata Dekan Pertanian UGM, Dr. Jamhari, kaum milenial bisa menggarap sektor pertanian. Salah satunya membuat aplikasi desa apps yang bisa dimanfaatkan oleh para petani untuk berkonsultasi.

Ia menambahkan, dunia pertanian menghadapi beragam persoalan. Salah satunya adalah minimnya minat generasi muda untuk terjun ke bidang pertanian. Maka menjadi tantangan untuk mengajak generasi muda menekuni sektor ini.

“Fakultas Pertanian UGM memiliki Agroenterpreunership Education Program (AEP). Program pendidikan kewirausahaan hasil kerja sama dengan Kagama Pertanian.  Diharapkan dapat melahirkan banyak pelaku socioenterpreunership terutama di bidang pertanian,” kata dia.


Sementara Kepala Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pendidikan BPPSDMP  (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian) Kementerian Pertanian Inneke Kusumawati berharap ke depan dapat tumbuh lebih banyak lagi petani muda yang terdidik.

“Perguruan tinggi diharapkan dapat mencetak petani-petani milenial berkualitas yang nantinya akan berkontribusi dalam pembangunan pertanian. Untuk menarik minat generasi milenial ke bidang pertanian bukanlah hal mudah,” kata dia.


Sebab selama ini imej petani selalu diidentikan dengan pekerjaan yang kurang menguntungkan. Karenanya penting untuk mengubah imej tersebut dimata generasi muda.

“Kiat harus buat imej bertani itu keren, milenial,” kata dia.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar