TINGKATAN MAKRIFAT: Syariat, Tarekat dan Hakikat

Achmad Murtafi Haris, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. 

Di negara kita sering terdengar istilah Syariat – Tarekat – Hakikat. Tiga kata itu sering dikaitkan dengan arti dari atap tumpuk/ atap tumpang/ atap bertingkat/ piramida tumpuk tiga atau antara dua sampai tumpuk lima yang ada di atas masjid-masjid kuno di Nusantara. Disebut Nusantara bukan Indonesia apalagi Jawa, karena ternyata di Malaysia, masjid atap tumpuk juga nampak pada Masjid Kampung Laut Kelantan yang berdiri pada awal abad delapan belas yang berdesain mirip Masjid Demak.

Di Indonesia ia tidak hanya ada di Jawa (masjid Ampel Surabaya [1421], masjid Demak [1474]) tapi di Maluku (masjid Wapauwe, 1414), di Sulawesi Selatan (Masjid Tua Palopo, 1604) dan Sumatera Barat (Masjid Tuo Kau Jao, 1599) juga demikian.   

Tiga tingkat pada atap mengandung makna: Islam, Iman dan Ihsan juga bermakna tingkatan Syariat, Tarekat dan Hakikat. Adanya tingkatan atap menunjukkan pengaruh tasawuf dalam Islam Nusantara. Tingkatan dalam dunia tasawuf disebut dengan Maqamat. Yaitu, tahapan-tahapan dalam menuju kesempurnaan iman. Desain Joglo dengan atap berlapis juga mengandung makna akulturasi budaya antara Islam dan budaya lokal warisan Hindu-Buddha. Atap segitiga berlapis adalah khas bangunan pura Hindu Jawa. Akulturasi budaya jamak terjadi dalam sejarah peradaban manusia dan merupakan kelaziman.

Terkait ajaran tasawuf yang tersebar di kalangan unat Islam seantero jagat, dalam tesis Aghamir  Fatimah al-Zahra dari Universitas Oran Algeria  (Aljazair) yang berjudul  “al-Shari’ah wa al-Tariqah wa al-Haqiqah fi Fikr Ibn ‘Araby” diteliti tiga terma penting dalam dunia tasawuf: Syariat, Tarekat dan Haqiqat. Tiga terma ini disebut dengan teori atau tingkatan (maqamat)  makrifat dalam diskursus Tasawuf. Untuk memahaminya perlu mengaitkannya secara logis dengan berbagai pandangan yang ada dan mengaitkan antara pandangan sufi yang banyak mengandalkan perasaan dan batin (esoterism) dan pandangan filsafat yang rasional. Hal ini lantaran bahwa Tarekat  adalah sebuah proses pencarian Hakikat yang mirip dengan perjuangan filsuf dalam mencari kebenaran atau hakikat. Kemiripan itu menjadi kajian komparatif menarik tentang sejauh mana keduanya memiliki kesamaan dan perbedaan dalam perjalanan masing-masing ke tujuan mengenal Tuhan atau hakikat.

Kaum Sufi berpandangan bahwa akal manusia tidaklah sepenuhnya cukup untuk mengenal dzat Allah. Akal posisinya adalah mempersiapkan diri untuk menerima ilmu Allah atau makrifat. Untuk itu akal tidak menjadi sandaran tunggal dalam mencapai makrifat. Abdurrahman Badawi mengatakan bahwa Tasawuf adalah bagian paling kaya dalam Islam yang fokus mengkaji kerohanian. Ia adalah hasil dari pendalaman nilai-nilai akidah, aspek lahiriah syariat dan refleksi kehidupan manusia. Rahasia-rahasia yang ada di balik simbol ritual dan syiar agama coba diungkap hingga pada akhirnya aspek rohani menjadi lebih unggul daripada aspek harfiahnya. Tasawuf adalah kerja nalar dan rohani yang tiada akhir dan terus berproses demi mengenal hakikat dan kehidupan. Syariat dan Hakikat adalah perkara fundamental dalam  tasawuf dan bahwa trilogi  Syariat yang merupakan aspek lahiriah teks, Tarekat yang merupakan jalan sufi dan Hakikat atau nilai rohani dari sebuah ajaran adalah bagian-bagian yang tidak terpisahkan dalam tasawuf. Ibn ‘Araby (w. 1240M) tokoh dan figur tertinggi tasawuf berpandangan bahwa alam semesta berdiri di atas ide hakikat Manusia yang Sempurna dan galaksi yang beredar pada porosnya. Syariat adalah ibarat kulit atau tampilan luarnya sementara Hakikat adalah isinya.

Syariat secara bahasa / etimologi / lughawiyyah berarti: tempat di tepi laut yang dilewati oleh hewan. Atau jalan yang dilewati. Sedangkan di bidang agama ia berarti sesuatu yang diajarkan dan diperintahkan oleh Allah. Seperti Shalat, puasa, zakat dan haji. 

Al-Qur’an al-Jatsiyah [45]: 18: 

(ثُمَّ جَعَلۡنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِیعَةࣲ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَ ٱلَّذِینَ لَا یَعۡلَمُونَ)

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” 

Menurut pandangan kaum sufi. Syariat tidak berhenti pada sebatas amalan fisik (aljawarih) tapi ia harus sampai pada tujuan syariat. Seperti Shalat ia tidak sebatas perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Ia juga harus khusuk di mana hati orang yang shalat benar-benar hadir kepada Allah. Inilah hakikat shalat.

Syariat bagi kaum sufi menggabungkan  12 sifat keimanan: 1. Syahadat: fitrah atau posisi awal manusia, 2. Shalat: agama (millah), 3. Zakat: kesucian (taharah), 4. Puasa: perisai (junnah), 5. Haji: kesempurnaan, 6. Jihad: kemenangan, 7. Amar makruf nahi munkar: perlindungan (wiqayah), 8. Aljama’ah: persatuan (ulfah), 9. Istiqomah: penjagaan (‘ishmah), 10. Makan halal: ketaatan (wara’), 11 dan 12. Cinta dan benci karena Allah: rekaman (watsiqah).

Rafiq al-‘Ajam dalam Ensiklopedi Istilahistilah Tasawwuf Islam yang dikutip oleh Aghari menyebutkan bahwa bagi kaum sufi, ibadah jika tidak sampai pada tujuan inti dari ibadah (haqiqat), ibadahnya tidak diterima. Sebaliknya, Hakikat jika tidak melalui jalan ibadat (syariat) hakikat tidak tercapai. Syariat datang untuk menjadi kewajiban manusia, hakikat memberitahukan definisi  kebenaran (Haqq). Syariat mengajak beribadah kepada Allah secara fisik (qiyam),  Hakikat mengantar menyaksikan-Nya (secara rohani). Memperjelas sisi jasmani dan rohani ibadah, Abu ‘Ali al-Daqqaq mengatakan bahwa dalam surat al-Fatihah: ‘Iyyaka na’budu’ adalah menjaga syariat dan ‘iyyaka nasta’in’ adalah meyakinkan secara hakikat.

Sedangkan Tarekat atau tariqat (jamak: tara’iq) secara bahasa adalah garis pada sesuatu (al-khatt fi alsyai’) atau sesuatu yang panjang seperti (batang) kurma yang tinggi atau tangkai payung. Tarekat juga berarti Kebiasaan. Allah berfirman dalam surat al-Jinn: 16:

(وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِیقَةِ لَأَسۡقَیۡنَـٰهُم مَّاۤءً غَدَقࣰا)

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup”. Juga berarti Contoh yang baik. Dalam surat Taha: 63:

(قَالُوۤا۟ إِنۡ هَـٰذَ ٰ⁠نِ لَسَـٰحِرَ ٰ⁠نِ یُرِیدَانِ أَن یُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا وَیَذۡهَبَا بِطَرِیقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ)

“Mereka (para pesihir) berkata, “Sesungguhnya dua orang ini adalah pesihir yang hendak mengusirmu (Fir‘aun) dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama”. Dalam tafsir yang lain, tariqah dalam ayat terakhir dimaknai orang-orang mulia dan menyebut tokoh masyarakat dengan Tariqat al-qawm. 

Dalam pandangan tasawuf, Tarekat berarti “Jalan khusus bagi kaum sufi yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah. Seorang penempuh (alsalik) atau pencari (murid) adalah seorang musafir yang sedang menapaki jalan kehidupan. Perjalanan setapak demi setapak yang mengantarkan pada derajat yang lebih tinggi (maqamat). Perjalanan menuju Allah adalah perjalanan hakiki dan rohani demi penyucian hati dan anggota tubuh dari akhlak dan perbuatan yang buruk. Kaum Sufi memilih kata Tariqat untuk menyebut kumpulan aturan dan prosedur yang ditetapkan oleh Syekh (guru) agar dilaksanakan oleh muridnya. Materi antara satu syekh dan yang lain berbeda-beda sehingga terdapat banyak tarekat dalam tasawuf yang tujuannya sama yaitu mengenal Allah dan fana dalam kecintaan-Nya. Tasawuf bukan teori kejiwaan, etika atau metafisika, tapi ia adalah jalan hidup dan pelatihan rohani (riyadlah) untuk tujuan kesempurnaan akhlak yang diserukan oleh Islam. Ada 4 ritual yang harus dilaksanakan agar mencapai derajat tertinggi. 1. Zikir dan amal shalih akan mendapat cahaya, 2. Tafakkur dan sabar akan mendaoat ilmu, 3. Fakir dan sabar akan mendapat lebih dari itu, 4. Cinta dan menjauhi dunia  akan mengantarkannya sampai pada yang dicintai (Allah). Yang melaksanakan keempatnya sampai derajat al-Siddiqin al-Muhaqqiqin, yang menjalankan ketiganya sampai derajat alAwliya’ al-Muqarrabin, yang keduanya al-Syuhada dan yang hanya melaksanakan satu Hamba Shalih. 

Sedangkan Hakikat mengutip dari Ibn Mandhur dalam Lisan al-Arab, adalah berasal pada kata Haqq atau sesuatu yang harus dijaga oleh manusia. Ia adalah yang sebenarnya dan berlawanan dengan majaz  atau metafora yang berarti kiasan atau perumpamaan. Hakikat dari sesuatu adalah asal muasalnya atau klimaksnya (muntaha). Dalam ilmu logika, kata Haqq berarti sesuatu yang diterima oleh rasio tanpa ada perselisihan. Sedangkan menurut ahli semantik, Haqq adalah yang sesuai dengan fakta. Sedang lawannya adalah Batil. 

Dalam ilmu Tasawuf, Hakekat adalah melihat Allah sebagai dzat yang menentukan hidayah dan kesesatan seseorang, yang mengangkat dan menjatuhkan seseorang, segala kebaikan dan keburukan, manfaat dan bahaya, iman dan kufur, taat dan maksiat dan kesemuanya adalah atas kehendak-Nya. Keyakinan akan Qada’ (ketetapan) dan Qodar (pengaturan) Allah adalah Hakikat. Hakikat adalah posisi seorang hamba yang sampai pada Allah yang terus menyucikan diri (tanzih).

Setiap Hakikat yang tidak dibarengi dengan syariat adalah Zandaqah. Hakikat mengembalikan sifat seseorang kepada Allah bahwa Allah adalah pelaku atas dirimu dan yang olehmu.  Dalam Surat Hud: 56, Allah berfirman:

(إِنِّی تَوَكَّلۡتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّی وَرَبِّكُمۚ مَّا مِن دَاۤبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِیَتِهَاۤۚ إِنَّ رَبِّی عَلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ)

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil)”.

Tiga tingkatan ini: Syariat, Tarekat dan Hakikat adalah tahapan mengenal Allah atau proses untuk menyaksikan Allah secara rohani di dunia atau yang dikenal dengan Makrifat. Orang terkadang menggabungkan Makrifat ke dalam tiga tahapan sehingga menjadi empat: Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat. Referensi Arab menyebut hanya tiga. Sedangkan makrifat adalah kata induk yang di bawahnya terkandung tiga kata yang menjadi bagian proses pencapaiannya.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar