Malam Lailatul Qadar Sebagai Rahmat dan Hadiah (1)

Ahmad Tavip Budiman S.Ag, M.Si, Sekertaris Komisi 1, (Ukhuwah Islamiyah ) MUI Kota Bogor.

Umat Islam di seluruh Dunia menanti malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul qadar. Malam tersebut ada menjelang akhir Ramadhan. 

Umat Islam menyambut malam tersebut dengan qiyamul lail. Ada yang melaksanakan salat Tahajud, dzikir, tadarus Alquran, dan berbagai amal kebaikan demi kemaslahatan banyak orang. Rasulullah semasa hidupnya hidupnya meningkatkan ibadah 10 hari terakhir Ramadhan. 

Dalam Alquran Allah berfirman yang artinya, “sesungguhnya kami menurunkan malam lailatul Qadar. Apa yang kalian ketahui tentang malam tersebut? Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan (al-Qadar: 1-3).

Ditinjau dari segi penamaan “lailatul qadar” terdapat pendapat yang mengatakan bahwa lafadz “al-Qadar” maknanya adalah ukuran, keutamaan dan kemuliaan. Dinamakan demikian, karena malam lailatul qadar mempunyai kemuliaan yang besar dan agung. Dalam tradisi Arab, ungkapan “Fulan Lahu Qadrun” artinya adalah orang itu mempunyai keutamaan dan kemuliaan.

Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa dinamakan lailatul qadar karena orang yang mengisi lailatul qadar dengan amalan-amalan yang baik akan mendapatkan keutamaan yang besar dan derajat yang tinggi di sisi 

Allahu subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, amal perbuatan baik yang dilakukan di malam itu kebaikannya akan dilipat gandakan pahalanya seprti mengerjakan amal perbuatan selama seribu bulan. Ketiga pendapat diatas adalah pendapat yang dapat dijadikan sebagai pegangan. 

Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa maksud dari lafadz “al-Qadar” disini mempunyai makna dari takdir. Sebab pada malam lailatul qadar ketentuan-ketentuan Allahu subhanahu wa ta’ala yang sudah ditetapkan direalisasikan, takdir yang dimaksud adalah yang terkait dengan kematian, rezeki dan kejadian-kejadian alam. Pada saat itu malaikat diperintahkan untuk melaksanakan ketentuan takdir tersebut. Allahu subhanahu wa ta’ala bersabda:

“Haa Miim. Demi kitab (Alquran) yang menjelaskan, sesungguhnya kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 1-4) maksud dari ayat, “yufraqu Kull Amri Hakim” adalah dijelaskan dan diperinci dari asalnya (Ummul Kitab) hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia menafsirkan ayat tersebut dengan mengakatan: 

“pada malam lailatul qadar dari ummul kitab ditentukan apa yang akan terjadi dalam setahun berikutnya, baik itu rezeki, mati, hidup, hujan sampai ketentuan tentang orang-orang yang akan berangkat haji.”

Adapun keutamaan lilatul qadar sangat banyak, antara lain:

1) Malam diturunkannya Alquran 

Lailatul qadar adalah malam diturunkannya Alquran al-karim, yang berisi petunjuk bagi para hamba kepada jalan yang lurus yang penuh kemuliaan dan kebahagiaan, didalamnya terdapat ajaran tentang adab dan akhlaq. Alquran diturunkan oleh Allahu subhanahu wa ta’ala sekaligus ke Baitul Izza pada malam lailatul qadar. Kemudian awal mula Alquran diturunkan kepada Sayyidina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama 23 tahun, juga pada malam lailatul qadar.

2) Malaikat Turun pada malam Lailatul Qadar. Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman, “malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Menurut kebanyakan ulama Salafush Shalihin bermakna bahwa amal shalih dan ibadah yang dikerjakan pada malam itu lebih baik jika dibandingkan ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat didalamnya lailatul qadar. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan mendorong ummatnya untuk menghidpkan lailatul qadar dengan memperbanyak shalat. 

Terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar disertai dengan keimanan dan semata-mata karena Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.” (HR. Bukhari dan Muslim). (Bersambung)

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar