Anjungan DIY di Taman Mini Simpan Benda-benda Kuno

Koleksi benda kuno di anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta di TMII

Marknews.id, Jakarta– Bagi masyarakat yang belum sempat ke Yogyakarta, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ada anjungan yang menyimpan benda benda khas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain itu banyak informasi yang bisa didapat di anjungan itu mengenai potensi budaya, ekonomi serta pariwisata dan lain-lain.

Ketua Badan Penghubung Daerah (Bahubda) DIY di Jakarta  Nugrohoningsih menyatakan  selain sebagai penghubung berbagai kepentingan kerja yang ada juga menjadi tempat ekspresi berbagai potensi yang ada di DIY.

“Sehingga tempat kami ini tidak pernah sepi dari berbagai kegiatan, terutama balam bidang budaya.  Kami menggelar berbagai kegiatan seni, baik tari,  karawitan dan lainnya,” kata dia, Senin, 7 Juni 2021.

Bahkan, warga asing seperti asal Jepang ikut latihan dan menggali informasi tentang Yogyakarta di anjungan ini. 

Bangunan anjungan ini menonjolkan kekhasan bangunan di Yogyakarta berapa rumah joglo yang besar. Bangunan yang berada di atas lahan lebih dari 8 ribu meter persegi itu berisi banyak benda-benda yang khas Yogyakarta. Berbagai benda peninggalan Keraton Yogyakarta di antaranya ada pasareyan tedeng dan dipan tempat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilahirkan oleh Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara pada 12 April 1912.

Pasareyan tersebut tampak kokoh berdiri setelah ratusan tahun digunakan. Kayunya tidak tampak lapuk dan membentuk kotak berukuran 256 cm x 256 centimeter menutupi kasur.

Selain pasareyan itu, juga ada  pasareyan Pangeran Diponegoro dan pasareyan dari bahan marmer peninggalan HB V. Benda lain yang disimpan adalah  dua perangkat gamelan dengan bahan perunggu yang berasal dari sumbangan masyarakat. Ada juga ampilan dalem berlapis emas, keris sejak zaman Mpu pertama Yogyakarta tahun 1840.

“Kadang gamelan berbunyi sendiri,” kata Nugrohoningsih menceritakan cerita magis di anjungan ini.

Memang, kata dia ada malam-malam tertentu, gamelan bunyi sendiri. Namun ada yang percaya ada yang tidak. 

“Hanya saja memang benda-benda di sini kan usianya sangat tua, mungkin memang memiliki hal-hal menarik tersendiri,” kata dia.

Disitat dari situs milik TMII, Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta di TMII menampilkan model Rumah Adat Mataram sebagai bangunan induknya. Rumah adat ini dibagi menjadi tiga bagian dan di antaranya adalah bagian depan yang disebut sebagai Pendopo Agung. Difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan melangsungkan pementasan kesenian.

 Pendopo demikian ini di Keraton Yogyakarta disebut dengan nama Bangsal Kencono. Di anjungan Yogyakarta, pendopo agung ini berupa bangunan tanpa dinding dengan 4 Soko Guru (tiang pokok) yang didukung oleh tiang-tiang pembantu di seputarnya.

Semua tiang tersebut terbuat dari kayu berukir, dengan corak ragam hias yang berasal dari alirang Hindu, Budha dan Islam. Seperangkat Gamelan Jawa yang digelar, yaitu Kyai Shanti Mulyo (Laras Pelog), dan Kyai Rajah (Laras Slendro) nampak menghiasi pendopo agung yang megah.

Bagian tengah bangunan disebut Pringgitan.Seperti namanya, yang berasal dari kata ringgit yang artinya wayang kulit, maka di tempat inilah pertunjukan wayang kulit biasa dilaksanakan.

Jenis kesenian, yang oleh masyarakat Jawa diakui sebagai kesenian ‘Adi Luhung ini, peminatnya cukup besar walaupun waktu pementasannya yang sampai semalam suntuk.Diantara pendopo agung dan Pringgitan, terdapat ruangan yang cukup luas, berupa lantai dengan posisi yang agak rendah. Ruangan ini dinamakan Longkangan, dan berfungsi sebagai tempat latihan kesenian, yang pada gilirannya akan ditampilkan di Pendopo Agung. Pada hari-hari tertentu, anjungan Yogyakarta memang menampilkan kegiatan latihan kesenian.

Bagian dalam rumah adat Mataram ini disebut Dalem Ageng. Pada Keraton Yogyakarta, bangunan jenis ini dinamakan Bangsal Proboyekso. 

Ruang dalam Ageng anjungan Yogyakarta diisi dengan berbagai benda antik, atara lain tempat tidur kuno yang terbuat dari bahan marmer, yang merupakan benda peninggalan Sultan Hamengkubuwono ke V. selain itu terdapat pula benda-benda dari istana (pura) Paku Alaman, antara lain : Tombak Pusaka Kyai Garuda Temanten, keris pusaka berluk tiga dengan pamor ‘beras wutah’ yang bernama Kyai Jangkung Pacar. Konon, pusaka yang bernilai tinggi ini dibuat oleh seorang empu ternama, R. Ng. Kariyocurigo, yang hidup pada masa pemerintahan Sri Pakualam di tahun 1840. Di ruangan ini terdapat pula PasareanTedeng, berupa sebuah balai-balaikuno, tempat dimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilahirkan. 

Bagian lain dalam Dalem Ageng ini yaitu Senthong Tengah (pasareyan tengah) yang memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan kepada Dewi Sri, yang dalam mitos Hindu dianggap sebagai Dewi Kesuburan, kesejahteraan dan juga Dewi Padi.Senthong yang berbentuk tempat tidur kuno berpenutup cinde ini konon merupakan peninggalan pangeran Dipenogoro.Di tempat inilah, upacara ‘Tampa Kaya’, upacara simbolis pemberian nafkah hidup dari suami kepada isteri dalam sebuah perkawinan adat diselenggarakan.Dalam ruangan ini terdapat sepasang patung pengantin Jawa, yang dinamakan Kyai dan Nyai Blonyo (Loro Blonyo). 

Sedangkan di depan tempat menyala dlupak ajug-ajug, yaitu lampudengan minyak kelapa yang selalu menyala. Di keratin Yogyakartam lampu demikian disebut Kyai Wiji, yang konon apinya diambil dari gunung merapi dan menyala abadi hingga sekarang.

Masih terdapat benda-benda lain di dalam Ageng ini, antara lain sepasang kaca besar dengan meja marmer tembus cahaya foto-foto Sri Sultan Hamengku Buwono ke IV sampai dengan ke IX dalam pakaian kebesarannya tampak menghiasi ruangan ini. Bagian belakang dari dalam ageng masih terdaoat ruangan yang dinamakan Gadri. 

Ruangan ini aslinya merupakan ruang keluarga dan makan.Namun di anjungan ini ruangan ini kini dimanfaatkan sebagai ruang rias dari studio tari. Bagian samping dari dalem ageng terdapat ruang Saketeng Kanan dan Saaketeng kiri, yang digunakan untuk memperagakan berbagai hasil kerajinan dari Kab. Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul. Bangunan tambahan yang terletak diseputar anjungan antara lain: bangsal mandalayasa, dimana ditempatkan andong khas Yogyakarta, cafeteria dan art shop Mataram, yang menjual hasil-hasil kerajinan Kota Gede, Cokrosuharto dan lain-lain. Bangunan lainnya adalah tempat pembuatan keris, yang dikerjakan oleh ahli wesi aji, yang konon masih keturunan Empu Supo dari Majapahit.

 

Full

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar