Terorisme Menyusup Muhammadiyah

ZULY QODIR, KETUA PROGRAM DOKTOR POLITIK ISLAM UMY

 

Maret – April 2021 menjadi bulan yang cukup merepotkan ormas Islam tertua setelah Sarekat Islam, yakni Muhammadiyah yang berdiri 18 November 1912. Beredar di pemberitaan bahwa terdapat warga masyarakat Yogyakarta yang memiliki identitas Muhammadiyah terciduk Densus 88 Anti Teror di Bandara Soekarno-Hatta Kamis 8 April 2021.

Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang bergerak dalam kerangka dakwah Islam amar makruf nahi munkar demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera dalam lindungan serta limpahan karunia illahi. Inilah misi dakwah Islam Muhammadiyah sejak berdirinya hingga saat ini. Oleh sebab itu, dakwah Muhammadiyah dapat dikatakan sangat inklusif tanpa membedakan latar belakang agama, suku, etnis maupun kelompok sosial. Terutama dalam menyantuni mereka yang berhak mendapatkan santunan dan kedermawanan sosial. 

Dalam menyebarkan misi dakwahnya, Muhammadiyah berpijak pada paham keislaman rahmatan lil alamin serta Islam wasathiyah. Sehingga Muhammadiyah tidak mengajarkan, mendakwahkan serta berprinsip pada gerakan Islam ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri yang cenderung bertentangan dengan prinsip utama Islam yang harus berada pada paham wasathiyah atau moderasi Islam.

Paham Moderatisme

Itulah prinsip yang dianut Muhammadiyah. Oleh sebab prinsip moderatisnya itu, Muhammadiyah sering kali dituduh tidak tegas dalam berpolitik dan bersikap. Muhammadiyah juga gampang mendapatkan tekanan politik dari kelompok lain yang ingin menjerumuskan Muhammadiyah dalam berpolitik, karena Muhammadiyah tidak berpolitik praktis serta tidak mendukung salah satu kekuatan politik tertentu. Muhammadiyah berpolitik kebangsaan dengan landasan etika politik yang berkeadaban, bukan politik dengan model pembagian kekuasaan atau kompromi-kompromi politik untuk bagi-bagi jabatan.

Dalam paham keagamaan, Muhammadiyah tidak ikut kaum salafis, wahabis, maupun tarbawi. Muhammadiyah berpaham keislaman mempergunakan dasar-dasar kitab suci al-Quran dan sunah makbullah dalam menyiapkan dan menetapkan ibadah. Memiliki pijakan etika kemasyarakatan dengan memperhatikan konteks sosial, politik, budaya dan historisitas sebuah teks. Oleh sebab itu, Muhammadiyah tidak menolak perkembangan ilmu pengetahuan modern yang bermanfaat untuk kemajuan umat Islam serta kemajuan bangsa. 

Muhammadiyah mempergunakan metode ilmiah dalam menetapkan hukum Islam tidak serta merta menjadikan hukum Islam harus ditetapkan secara tekstual, apalagi jika yang dimaksudkan hukum Islam adalah fikih.

Hal itulah yang membuat Muhammadiyah berbeda dengan paham salafisme, wahabisme dan tarbiyah yang belakangan berkembang di Indonesia. Muhammadiyah tidak identik dengan wahabisme, salafisme maupun tarbawi, sekalipun di lapangan terdapat warga Muhammadiyah yang tampaknya tertarik dengan ketiga paham keislaman ini. 

Oleh sebab itu, salah besar jika dikatakan Muhammadiyah itu wahabisme atau salafisme karena ada warganya yang tertarik dengan paham yang lain. Muhammadiyah tetap berpegang pada prinsip tawasut dan rahmatan lil alamin sebagai ajaran pokoknya dalam berdakwah bil lisan dan bil amal.

Jihad Muhammadiyah

Dalam hal jihad misalnya, Muhammadiyah mentafsirkan bahwa jihad merupakan upaya sungguh sungguh seseorang dalam berbuat kebajikan, menyelamatkan umat manusia dari kerusakan, menyelesaikan masalah-masalah sosial dan berjuang untuk meraih cita-cita dengan jalan yang benar, sesuai tuntunan ajaran Rasulullah Muhammad dan etika Islam yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan dan peradaban. Jihad karena itu, tidak dipahami dalam konteks perang dengan mengangkat senjata, meledakkan bom,melemparkan molotof dan membunuh orang-orang tidak berdosa dan merusak peradaban umat manusia. Jihad adalah perjuangan membangun peradaban dengan cara-cara yang beradab.

Dengan konteks semacam itu, Muhammadiyah tidak bersepakat dengan adanya gerakan-gerakan keagamaan yang mengklaim melaksanakan jihad dengan cara-cara kekerasan, perusakan fasilitas publik serta mencelakakan manusia lainnya yang tidak berdosa.

Namun demikian, belakangan Muhammadiyah sebagai ormas Islam sering dan mudah disusupi orang-orang yang memiliki paham keagamaan berbeda dengan Muhammadiyah, kemudian mempengaruhi dan membuat warga Muhammadiyah terpengaruh oleh apa yang mereka lakukan.

Kejadian yang muncul pada akhir Maret di Yogyakarta dan awal April di Jakarta, atas digelandangnya orang-orang yang dikatakan dekat dan berafiliasi dengan Muhammadiyah menjadi bukti bahwa Muhammadiyah sebagai ormas Islam memang sangat rawan dengan adanya orang-orang yang memiliki agenda paham keagamaan dan agenda politik berbeda dengan Muhammadiyah.

Agenda Penting

Oleh sebab itu, agaknya hal yang penting diperhatikan serius oleh Muhammadiyah yang memiliki jamaah cukup besar dan amal usaha cukup banyak adalah berhati hati ketika hendak menjadikan orang orang yang semula tidak aktif di Muhammadiyah menjadi guru ngaji, tukang khutbah, guru sekolah apalagi menjadi pimpinan di Muhammadiyah. Muhammadiyah perlu merapatkan barisan agar organisasi ini tidak disusupi agenda agenda paham keagamaan dan agenda politik yang bertentangan dengan Muhammadiyah.

Warga Muhammadiyah juga tidak perlu gampang terkesima berlebihan terhadap orang orang yang tidak sejak awal menjadi Muhammadiyah. Warga muhammadiyah tidak perlu menggeret orang orang yang tampaknya tertarik dan kagum dengan Muhammadiyah, sebab hal semacam itu dapat menjerumuskan Muhammadiyah sendiri di kemudian hari, ketika terjadi suatu masalah atas orang orang yang dijadikan panutan bahkan pengurus atau pun pimpinan di Muhammadiyah.

Hal lainnya yang sangat penting dipikirkan dan dilakukan Muhammadiyah adalah memiliki sikap kritis atas ajakan ajakan untuk melakukan pembelaan, advokasi serta demonstrasi untuk mendukung seseorang yang dianggap warga Muhammadiyah, karena terkena suatu kasus atau berurusan  dengan aparat keamanan dan penegak hukum.

Saat ini warga dan pimpinan  Muhammadiyah harus benar benar bersikap kritis dan berhati atas adanya seseorang atau kelompok yang hendak menyeret dan mengajak Muhammadiyah dalam aktivitas yang bertentangan dengan Muhammadiyah serta melawan negara. Hal ini disebabkan Muhammadiyah memang tidak didedikasikan untuk melawan negara, menegasikan sesama umat beragama serta umat Islam yg berbeda paham keagamaan.

Muhammadiyah sebagai ormas Islam moderat memang dalam ancaman dan tantangan hadirnya kelompok keagamaan yang bersifat eksklusif, ekstrem dan cenderung bergerak mempergunakan jalan kekerasan. Inilah ancaman penyusupan kaum penyebar kekerasan ekstremisme dengan jubah keislaman.

 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar