Tenaga Kerja Industri Kreatif Indonesia Melebihi Penduduk Israel

Sukamta saat diskusi  Seminar Merajut Nusantara Bakti Kominfo, Jumat, 16 April 2021.

Marknews.id, Yogyakarta – Jumlah tenaga kerja di industri kreatif Indonesia mencapai 18 juta orang. Jumlah ini melebih penduduk negara Israel yang tidak mencapai 10 juta orang bahkan jumlah Yahudi di dunia. 

Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta menyebut industri kreatif mampu menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan jumlah penduduk Malaysia apalagi Singapura kalah jumlah. 

“Bisa dibayangkan 18 juta orang itu punya kreativitas menghasilkan produk,” kata anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan DIY ini saat menjadi narasumber Seminar Merajut Nusantara Bakti Kominfo, Jumat, 16 April 2021.

Seminar yang diikuti peserta secara luring maupun daring bertema Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Kreatif.  Ia mengatakan industri kreatif memberikan sumbangan pendapatan yang besar bagi Indonesia hingga mencapai Rp 10 triliun.

Sayangnya, industri kreatif di Indonesia tidak ada pembatasan. Berbeda dengan negara lain seperti  Inggris. Cakupan industri kreatifnya lebih fokus.

Di Indonesia industri kreatif mulai dari pertanian hingga kuliner. Asal ada inovasi disebut kreatif. 

Dia mencontohkan, dulu gudeg pakai pincuk disantap di dapur (pawon), sekarang tersedia gudeg kaleng kemudian disebut industri kreatif. Cakupannya menjadi besar. 

“Agak kurang fokus, Di negara lain, kuliner tidak masuk kategori industri kreatif,” kata Sukamta.

Bahkan, kata dia  di Inggris ada lebih dari 60 nama makanan tetapi barangnya sama, ikan goreng plus kentang potong kecil-kecil. Sedangkan kreasi kuliner Indonesia sangat luar biasa sehingga mampu mendominasi ekonomi kreatif tingkat nasional hingga 41 persen.

Di luar kuliner, kata anggota Fraksi PKS ini mengatakan, DIY menyimpan potensi besar industri kreatif. Sebelum pandemi, menguasai 85 persen pasar lukisan di Asia. 

“Ini potensi yang luar biasa. Warga DIY juga dikenal memiliki keterampilan tangan sangat bagus, banyak industri fashion dari New York dan pusat fashion Asia serta Eropa mengambil produk dari DIY. Pembuatnya orang Indonesia, yang muncul orang Amerika dan Eropa,” kata pria kelahiran Klaten ini.

Mestinya, kata dia, pemerintah harus mendukung agar para pelaku industri kreatif mampu meningkatkan kualitas mutu maupun penetrasi pasar.

Ia sangat menyayangkan, di balik sukses itu, sebagian besar UMKM di DIY belum banyak yang manfaatkan akses teknologi informasi. Sebagian tidak menggunakan komputer dan internet, kemungkinan karena keterbatasan akses. 

Sedangkan  di negara lain teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi fokus industri kreatif. Di Indonesia baru sebatas sebagai sarana penunjang saja.

 

FULL

 

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar