Gastronosia Kenalkan Masakan Berdasar Relief dan Prasasti Candi 

Marknews.id, Yogyakarta – Masakan zaman kuno diracik lagi di zaman milenial ini. Berdasar gambar pada relief Candi Borobudur, ada beberapa masakan yang dibuat dan sangat menggoda lidah.

Di relief candi di abad VIII hingga X, ada gambar ikan, kijang dan kerbau yang diyakini menjadi bahan masakan saat itu. Para penggerak gastronomy membentuk Gastronosia untuk mengenalkan masakan yang lahir dari budaya pada masa itu.

“Gastronosia adalah sebuah program dari IGC (Indonesian Gastronomy Community) untuk merekonstruksi kejayaan gastronomi nusantara di masa lampau yang relevan digunakan di masa kini,” kata Ria Musriawan, Ketua Umum IGC saat peluncuran program Gastronosia di Candi Prambanan, Ahad malam, 4 April 2021.

Saat peluncuran itu, dihidangkan empat masakan lezat yang terdapat pada prasasti penetapan Sima dan relief abad VIII – X terutama dari Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Cabean Kunti.

Yaitu Rumbah Hadangan Prana (Glinding Daging Kerbau), Knas Kyasan (Kicik Daging Rusa), Klaka Wagalan (Ikan Beong Masak Mangut), dan Harang-harang Kidang (Rusa Bakar). Kicik Daging Rusa berasal dari interpretasi pada Prasasti Mantasyih I (829 Saka / 907 Masehi, Prasasti Parada II (865 Saka / 943 M), dan relief Borobudur.

“IGC melakukan eksplorasi guna memberikan edukasi mengenai perkembangan gastronomi dari sudut sejarah melalui relief dan prasasti sebagai salah satu misi kami dalam memperkenalkan Indonesia sebagai pusat budaya makanan,” kata Ria.

Tema yang diusung pada peluncuran Gastronosia adalah “Dari Borobudur untuk Nusantara”. Dengan mengangkat konsep makanan adalah budaya bangsa, maka gastronomi Indonesia dapat berperan dalam misi-misi diplomasi dan meningkatkan ekonomi melalui gastro-turisme maupun gastro-prenuership.

Ketua Panitia Gastronosia, Ratna Nuryanto interpretasi makanan dari relief dan prasasti sudah tepat dengan penamaan makanan dan budaya pada masa Mataram Kuno. Sebelum membentuk Gastronosia, panitia sudah banyak studi bersama tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah. Juga berdiskusi dengan para ahli.

“Para ahli Universitas Gadjah Mada, yaitu Profesor Timbul Haryono selaku Guru Besar Ilmu Arkeologi dan Profesor Murdijati Gardjito selaku Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan serta ahli dari Universitas Indonesia yakni Profesor Saptawati Bardosono selaku Guru Besar Nutrisi dan Bondan Kanumoyoso dari Fakultas Ilmu Budaya, mengupas makna dari prasasti, penamaan yang tepat, dan gizi dan nutrisi dari makanan Abad VIII – X tersebut,” kata dia.

Full

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar