Masyarakat Diminta Daftarkan Kekayaan Intelektual Komunal


MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) di 8nd9nesia begitu banyak. Namun masih banyak pula yang belum didaftarkan. Jika belum didaftarkan, dikhawatirkan justru akan diklaim oleh negara lain. 

Dalam diskusi virtual “Unity in Diversity. Harmoni dalam Keberagaman. #CumaPunyaIndonesia”, 15-16 September 2020 oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM terungkap banyak Kekayaan Intelektual Indonesia yang diserobot oleh negara lain. Berbagai kesenian Indonesia pernah diklaim oleh negara asing, misalnya Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, dan Tari Pendhet. 

Di bidang pengobatan tradisional, Indonesia memiliki jamu. Pada 2020 ini, ada suatu kasus penggunaan tanaman asal Indonesia sebagai bahan baku komposisi dan bahan larutan kosmetika yang sempat didaftarkan patennya oleh salah satu perusahaan kosmetik Jepang kepada Japan Patent Office yang kemudian dilaksanakan investigasi dan pelaporan oleh atase pertanian Indonesia.

“Dulu kekayaan kita dipandang hanya dari social lifenya saja, tidak tertangani dengan baik, baru nanti repot ketika sudah diklaim oleh negara lain,” kata Dr. Freddy Harris, ACCS, Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM dalam diskusi virtual yang dipandu Deddy Corbuzier, Selasa, 15 September 2020.

Ia menyebut, contohnya adalah reog, rendang, kunyit, bahkan kopi gayo. Untuk perlindungan, maka harus diregistrasi. 

“Kita selalu cerita tentang proteksi, perlindungan. Apa yang mau dilindungi orang nggak didaftarin. Kesadaran akan pendaftaran menjadi penting. Tanpa ada pendaftaran, tidak ada perlindungan yang masif. Daftarin dulu, lihat sisi komersialnya, baru perlindungannya,” Freddy Harris menambahkan.

Menurut Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Indonesia baru mencatat segelintir kekayaan intelektual. Contohnya pada survei 2018 ada 8.224 jenis kesenian dan pengetahuan tradisionalnya sekitar 700 an. 

“Jadi kalau menurut hemat saya, itu baru top of the iceberg saja sebetulnya. Di bawahnya masih banyak, luar biasa kekayaan yang kita memiliki. Belum sifatnya yang tangible seperti cagar budaya,” kata   Hilmar Farid.

Kekayaan Intelektual Komunal merupakan kekayaan intelektual yang kepemilikannya bersifat kelompok. Merupakan warisan budaya yang menjadi identitas suatu kelompok atau masyarakat. Kekayaan Intelektual Komunal didefinisikan sebagai Kekayaan Intelektual berupa Pengetahuan Tradisional (PT), Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), Sumber Daya Genetik (SDG), dan Potensi Indikasi Geografis.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM mengadakan talkshow Virtual bertajuk “Unity in Diversity. Harmoni dalam Keberagaman. #CumaPunyaIndonesia” pada 15-16 September 2020. Selama 2 hari, acara KIK Talks ini disimak secara langsung melalui platform zoom oleh 1.417 orang, dan disiarkan secara langsung di kanal-kanal media sosial DJKI Kemenkumham. 

Dalam mempromosikan kekayaan intelektual ke masyarakat Indonesia sendiri, Hilmar Farid menyatakan setidaknya ada 3 faktor. Yaitu media, karena kita tidak bisa berbicara secara efektif apabila tidak ada media. Kedua adalah pendidikan, apabila tidak diajarkan dari awal maka akan lewat.  Dan ketiga fokus. 

“Di faktor ketiga, yaitu fokus. Problem dari orang kita  yang kelewat kaya, tidak tahu mana yang mau diangkat,” kata dia.

Sementara hari kedua KIK Talks dipandu oleh Stefano Thomy, dengan menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Dra. Dede Mia Yusanti, MLS (Direktur Paten, DTLST, dan RD, Kementerian Hukum dan HAM), dan Wulan Tilaar (Expert, Holistic Beautifier, Direktur Martha Tilaar Spa dan Puspita Martha International Beauty School.

“Paten itu bisa diajukan oleh inventor, perusahaan, maupun organisasi. Kita memang punya kewajiban untuk melestarikan budaya. Jangan sampai punah, hilang tak tau kemana rimbanya. Pencatatan menjadi hal yang penting, karena menjadi salah satu bukti kepemilikan. Namun harapannya memang potensi kita tidak hanya berhenti di pencatatan dan pelestarian, namun bisa jauh pemanfaatan dan pengembangannya hingga dapat berdampak ke aspek ekonomi untuk kepentingan bangsa dan negara,” ujar Dede Mia Yusanti.

Ditambahkan oleh Wulan Tilaar, kearifan dan kekayaan alam Indonesia adalah anugerah, tapi juga tanggung jawab bersama. 

“Setiap dari kita, baik kecil maupun besar, kalau ada niat dan kemauan, bisa mengambil peran dalam tanggung jawab ini. Keep on beautyfing Indonesia dengan apa yang kita miliki,” kata  Wulan Tilaar.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar