Menelusuri Terowongan Terpanjang di Indonesia

 
MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Dengan kecepatan kendaraan bermotor 40 kilometer per jam, warga yang melintas di terowongan terpanjang se Indonesia di Kulon Progo bisa menikmati pemandangan berbeda. Di sepanjang underpass sejauh 1,406 kilometer ada banyak relief penari angguk. Tari angguk merupakan tari tradisional khas Kulon Progo.

Jika diperhatikan, terutama oleh penumpang yang berada di depan, relief itu bergerak seperti menari. Karena setiap relief berbeda posisi tangan, kepala dan kaki. Seolah menjadi gambar yang bergerak. Selain itu juga ada suara imbauan untuk hati-hati dengan bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris.

“Asik juga melintasi terowongan ini. Tapi bagi pengendara tetap harus hati-hati,” kata Rahardjo, salah satu warga yang melintasi terowongan itu, Rabu, 29 Januari 2020.

Rambu-rambu sebelum masuk terowongan memang masih kurang. Warga yang ingin melintasi underpass di bawah kawasan Yogyakarta International Airport itu tidak boleh berhenti saat di terowongan.

Bagi pengendara mobil maupun sepeda motor memang tidak begitu masalah. Namun, karena terowongan itu juga boleh dilintasi sepeda ontel, maka pengendara sepeda harus ekstra hati-hati.

Di dalam terowongan itu memang ada trotoar selebar sekitar 70  sentimeter. Namun, pejalan kaki tidak diperbolehkan melewati terowongan itu. Trotoar sempit itu difungsikan bagi petugas yang melakukan inspeksi atau perbaikan.

Menurut Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta, Arif Setiadi, rambu-rambu harus jelas dan ditambah. Karena saat ini belum ada rambu larangan bagi pejalan kaki. Khawatirnya, banyak warga yang ingin melihat bagian dalam terowongan dan berswafoto atau selfie. Juga ada penumpang kendaraan yang berhenti hanya sekedar ingin berswafoto.

“Perlu ada tambahan rambu, itu untuk keselamatan pengguna jalan,” kata Arif.

Kesadaran warga yang melintas juga harus ditingkatkan demi keselamatan. Memang kendaraan yang masuk ke terowongan itu dilarang berhenti. Namun masih saja ada yang nekat untuk berswafoto.

Juga diusulkan adanya lajur khusus bagi pengendara sepeda ontel. Sebab, jika tidak ada lajur khusus, ada kekhawatiran terjadi kecelakaan yang pasti tidak diinginkan.

“Perlu ada jalur khusus kendaraan non mesin,” kata Anggota Komisi C, Novida Kartika Hadhi.

Menurut dia, jalur sepeda ini tidak butuh lahan yang lebar. Sehingga masih sangat mungkin dilakukan penambahan, dengan mengurangi sebagian badan jalan. Termasuk ketegasan larangan bagi pejalan kaki untuk masuk.  

Kepala Dinas Perhubungan Kulonprogo, Bowo Pristiyanto, mengatakan pihaknya  terus melakukan pengawasan. Hampir satu minggu dibuka pihaknya banyak menemukan permasalahan

Salah satunya jalur sepeda dan larangan bagi pejalan kaki. “Kalau ada jalur khusus sepeda akan bagus, termasuk rambu larangan bagi pejalan kaki,” kata dia.

Proyek pembangunan underpass di bawah area terminal Bandara Internasional Yogyakarta telah selesai dibangun. Mulai Jumat, 24 Januari 2020 underpass yang menghubungan Desa Glagah dan Desa Paliyan, Temon, Kulon Progo ini dibuka untuk umum.  Panjangnya sampai di ujung mencapai 1,406 kilometer dan yang tertutup atau berada di bawah terowongan sepanjang 1,05 kilometer. 

Underpass ini dibagi dalam dua lajur,  setiap lajurnya ada 2 jalur dengan lebar setiap lajur 7,85 meter. Ketinggian underpass mencapai 5,1 meter.

Untuk keamanan, di kedua pintu masuk  dilengkapi dengan lampu flip-flop, ada 8 unit Emergency Exit, exhaust fan dan dilengkapi dengan lampu. Di kedua mulut underpass juga dipasangi speaker untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar