Pernikahan Dini Juga Jadi Sebab Kasus Stunting di Bantul

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul masih banyak terjadi kasus stunting. Penyebabnya, selain asupan gizi yang kurang, pengetahuan orang tua terhadap makanan bagi anak juga akibat masih adanya pernikahan dini.

Kelik Subagyo, Kepala Desa Muntuk menyatakan, pihaknya sudah sering mensosialisasikan tentang gizi bagi ibu hamil dan anak-anak. Juga sudah sering memberi pengertian soal usia pernikahan yang ideal. Di desa itu dan sekitarnya, masih  ditemukan warga yang menikah usai lulus Sekolah Menengah Pertama.

“Sosialisasi tentang stunting sangat penting. Agar warga terutama kaum ibu menjadi lebih paham ciri stunting dan bagaimana menanganinya,” kata Kelik, Jumat, 24 Januari 2020.

Stunting menurut Kementerian Kesehatan adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, kondisi tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Ia mengisahkan, terjadinya kasus stunting di desanya berawal dari banyaknya pernikahan dini. Pihaknya sudah sering memberi pengertian soal pernikahan yang usia ideal. Kemudian dulu ada istilah gizi buruk dan kini ada istilah stunting.

“Kami bersinergi dengan pemerintah, tenaga ahli kesehatan, dan swasta untuk menangani kasus stunting,” kata Kelik.

Ia minta masyarakat lebih  sadar terkait gizi bagi anak-anak, kesadaran pola hidup, dan pengetahuan tentang stunting.  Sumberdaya memang mempengaruhi, mulai dari saat hamil, merawat anak anak, hingga pemenuhan terkait gizi. 

Pihak swasta juga peduli terhadap banyaknya kasus stunting juga memberi bekal supaya tidak lagi kasus serupa. Hari gizi yang diperingati setiap 25 Januari. PT. Tripatra Engineers and Constructor (TRIPATRA), perusahaan yang bergerak di bidang rekayasa teknik, pengadaan, dan konstruksi (EPC), menggelar kegiatan penanggulangan stunting di desa Muntuk Kecamatan Dlingo, Bantul. 

Sejumlah 105 orang mengikuti kegiatan ini. Mereka  merupakan warga dari 3 desa di Kecamatan Dlingo. Selain penyuluhan, dibagikan pula buklet berisi panduan pola hidup pencegahan stunting.

Dlingo dipilih karena termasuk lokasi khusus yang ditetapkan pemerintah sebagai fokus stunting. Kabupaten Bantul merupakan satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting di Indonesia. Stunting  bukan isu baru dalam dunia kesehatan, merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada 1000 hari pertama kehidupan anak (usia emas), yaitu sejak janin hingga usia anak 2 tahun.

“Acara ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam menanggulangi stunting. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, angka penderita stunting atau kerdil balita di Bantul mencapai 22.89 persen,” kata  Ninesiana Saragih, HOD Head of Corporate Communications & CSR PT TRIPATRA.

Sukirman, seorang warga penerima bantuan menyatakan adanya sosialisasi tentang stunting ini sangat dibutuhkan warga. Kami akan mengikuti saran para dokter dan ahli gizi. 

“Tentunya kami mengikuti saran dokter yang menyampaikan materi, harapan saya, semoga tidak berhenti di penyuluhan ini,” ujar Sukiman.

Menurut Ahmad Riyanto, Kepala Puskesmas Dlingo, stunting menjadi parameter kualitas kehidupan anak. Jika orang tua memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan anak, maka hasilnya akan terlihat 5 tahun mendatang, yaitu peningkatan kualitas.  

“Pertama, persiapan sejak sebelum hamil atau pra nikah, awal kehamilan, pemeliharaan anak usia 0 bulan, 6 bulan, hingga 2 tahun,” kata dia.

Ahmad mengakui, kasus stunting  di Desa Muntuk memang cukup banyak. Para ibu sering mengeluhkan anaknya susah makan. Maka ia memberi tips agar anak-anak tetap mengkonsumsi makanan sehat dan mengurangi jajan.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar