Miskin itu Dosa

Pikiran Dul Kenyut sedang kacau. Dia baru saja mendengar kalimat yang menohok nuraninya. Kalimat itu diucapkan oleh seorang tokoh dengan menunjuk-nunjukkan jari tangannya.

“Orang miskin itu berdosa,” kata tokoh itu di depan Dul Kenyut.

Santri swasta ini lalu mencari dalil-dalil kitab suci. Namun belum menemukan secara spesifik suatu ayat yang “menghakimi” orang miskin itu berdosa. Bahkan orang miskin dilindungi oleh “undang-undang” yang dibuat oleh Tuhan. Mereka diberi jatah dari para muzakki.

Bahkan menurut Dul Kenyut,  orang-orang miskin itu dapat banyak pahala. Karena merekalah orang-orang kaya bisa menyalurkan zakat. Lalu di mana dosa mereka yang dibilang miskin tadi?

Sambil mengisap 234 lalu sedikit demi sedikit ia memahami. Oh, iya. Ternyata orang miskin bisa jadi berdosa. Kalau orang itu miskin,  bagaimana memberi makan anak dan istrinya. Harga-harga bahan pangan juga sudah mahal. Tidak bisa mengandalkan Jumat barokah yang hanya digelar seminggu sekali makan gratis.

Bagaimana ia akan memberi sandang dan papan apalagi kendaraan bagi keluarganya. Lalu bagaimana bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Sedangkan biaya sekolah meskipun yang negeri sebagian sudah digratiskan.

Dul Kenyut semakin percaya kalau orang-orang miskin itu berdosa. Bagaimana tidak berdosa kalau anak dan istri mereka tidak diberi makan, tidak disekolahkan. Belum lagi jika ada yang sakit. Meskipun sudah ada BPJS, tapi pengelolaan oleh negara juga masih cengkarut.

Tapi  Dul Kenyut juga mikir. Kok dosa hanya dibebankan kepada mereka yang miskin. Lalu ia beranjak dari kursi yang ia duduki, yang ternyata banyak tingginya (kutu bangsat).

“Mosok hanya orang-orang miskin yang berdosa,” ia membatin.

Lalu bagaimana orang yang di sekitar orang miskin itu? Nah bukannya membiarkan orang itu miskin justru lebih berdosa?  Jelas lebih berdosa. Karena mereka tahu ada orang di dekatnya miskin tetapi membiarkan mereka tetap miskin. Bukan memberi mereka pekerjaan tapi bahkan ada juga yang menghina karena mereka miskin.

“Astagfirullah,” Dul Kenyut beristighfar.

Sambil menyeruput kopi pahit kiriman temannya dari Aceh, Dul Kenyut bertanya, kenapa angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi. Rata-rata menurut

Badan Pusat Statistik (BPS)  9,66 persen pada September 2018.

“Negara tidak  bisa kita andalkan, nih,” kata Dul Kenyut sambil menggerutu.

Kalau orang miskin berdosa,  orang yang membiarkan orang lain miskin lebih berdosa, lalu Dul Kenyut bertanya-tanya lagi, apakah ada orang yang semakin berdosa karena kemiskinan?

Ternyata menurut Dul Kenyut ada orang yang jauh semakin lebih berdosa. Oh siapa itu?

“Orang yang membuat orang lain miskin itu jauh semakin lebih berdosa,” teriak Dul Kenyut yang membuat kaget kawannya yang sedari tadi ternyata sudah tiba di rumahnya.

Para pejabat dan politikus korup itu sangat berdosa. Mereka juga merupakan komponen yang membuat orang-orang Indonesia menjadi miskin. Duit ratusan miliar bahkan triliunan rupiah diembat.  

“Hukuman penjara bahkan tidak membuat jera,” kata Dul Kenyut sambil menepuk bahu kawannya itu.

Memang, miskin itu dosa, membiarkan orang miskin lebih berdosa. Membuat orang lain miskin jauh semakin berdosa. Semoga semuanya lepas dari dosa akibat kemiskinan.

Kawan Dul Kenyut

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

1 komentar

  • Orang miskin di RI sering disematkan kepada mereka dg sifat malas, hidup tidak disiplin, tidak kreatif dan serba yg buruk2, sebenar orang2 miskin di kita timbul karena struktural. Rakyat sengaja dibuat miskin, bagaimana tidak, petani dikamoung saat panen padi, palawija dan sebagainya harga tidak dibuat untuk mensejahterakan mereka, kalah oleh tengkulak2 yg kaya modal yang dipelihara cukong2, sementara negara melakukan pembiaran dengan alasan tidak mampu membeli. Dan pemerintah lebih suka membelinya dari negara lain dg harga yg tidak jauh berbeda alih2 lebih murah, padahal itu hanya alasan para pengambil kebijakan untuk mendapat fee pembelian, uang keamanan dsb yg sesungguhnya lebih mahal pada akhirnya.Negara ini telah sengaja membuat seorang suami diminta istri untuk bercerai karena alasan ekonomi yg tidak dipenuhinya. (lihat antaranews, 20 april 2020), bagaimanapun dosa yg terbesar adalah negara yang memang sengaja memiskin rakyatnya.
    Maka dengan penyelenggara negara mestinya mengambil kebijakan ekonomi yang bisa mengangkat rakyat supaya tidak diberikan label miskin.