Dul Kenyut Santri Swasta 


Ada obrolan santai di antara para alumni pesantren. Para santri ini mengklaim sebagai santri “swasta”. Lhoh,  kok bisa ada santri swasta.  Berarti ada santri negeri dong.

Nah, dari sebutan santri swasta dan santri negeri ini menggelitik pikiran Dul Kenyut. Ia  merasa menjadi santri yang dianaktirikan oleh pemerintah. Kenapa? Saat hari santri 22 Oktober, ia merasa tidak diajak atau diundang untuk memperingati.  Bahkan si Dul Kenyut ini merasa asing dengan hari yang disebut Hari Santri itu.

Lagi pula, yang sering diajak dan diundang memperingati Hari Santri hanya pesantren yang dianggap pro pemerintah. Lalu pesantren yang dianggap berseberangan tidak dilibatkan.  Begitu juga dengan perhelatan Liga Santri. Pesantren yang terlibat adalah pesantren yang “pro pemerintah”.

Nah, berarti ada dong, pesantren yang dianggap tidak pro pemerintah. Ini menjadi pertanyaan besar.  Lalu anggaran untuk pesantren bagaimana? Bukannya APBN juga dianggarkan  dana untuk pesantren. Lalu apakah yang menerima dana itu pesantren yang hanya dianggap pro pemerintah? Dul Kenyut semakin tidak bisa memahami alur pemikiran dan kebijakan pemerintah soal santri dan  pesantren.

Tapi bagi Dul Kenyut,  pesantren mempunyai basis yang kuat. Baik secara ilmu agama, ilmu umum,  ilmu sosial-ekonomi,  bahkan ilmu laduni.  Pesantren tidak mau tergantung pada pemerintah.  

“Penak dadi santri swasta. Bebas, gak tergantung ke pemerintah. Sing penting ngaji, ora kalah karo sekolah negeri,” kata Dul Kenyut.

Kawan Dul Kenyut

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar